Bentuk dan Makna Pemakaian Bahasa
Dosen pengampu :
Dana Aswadi,M.Pd
Mata Kuliah :
Bahasa Indonesia
Disusun Oleh :
M. Raihul Firdaus
B1A015495
PROGRAM STUDI
ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
Universitas
Lambung Mangkurat
Banjarmasin
2016
BAB I
Pendahuluan
1. Latar
Belakang Masalah
Pada zaman sekarang, sedikit sekali masyarakat / remaja yang mengenal bahasa
Indonesia secara benar. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa gaul sebagai
bahasa komunikasi. Sebenarnya itu adalah kesalahan besar masyarakat kita.
Masyarakat tidak bangga dengan bahasa resminya. Mereka lebih bangga dengan
bahasa yang telah mereka rusak sendiri. Seharusnya, kita sebagai warga negara
Indonesia yang baik, lebih bangga dengan bangsa resmi kita, tidak dengan bahasa
gaul yang telah kita ciptakan tanpa menggunakan kaidah EYD yang berlaku.
Masalah ini telah menjadi masalah yang serius bagi kita. Dan sudah seharusnya
kita sebagai warga negara yang baik mau mempelajari dan menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik.
1. Rumusan
Masalah
2. Apakah
bentuk dan makna dalam Bahasa Indonesia?
3. Apakah
macam-macam bentuk dan makna itu?
4. Apakah
kegunaan dari macam bentuk dan makna itu?
5. Tujuan
Makalah ini berisi penjelasan tentang bentuk dan makna yang ada
dalam bahasa Indonesia, yang diharapkan bisa membantu para pembaca dalam
memahami bahasa Indonesia lebih dalam.
BAB
II
Landasan Teori
Ragam, Bentuk dan Makna Bahasa Ragam Bahasa: Variasi bahasa
menurut pemakaian, berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut
hubungan si pembicara, kawan bicara dan orang yang dibicarakan, dan menurut
medium pembicaraan. Ragam Umum Ragam Sastra Ragam Jurnalistik Ragam Khusus
Ragam Ringkas Ilmiah Jabatan
Ragam Umum: contoh: pidato, surat menyurat, karangan umum
(bahasanya terpelihara) Ragam Khusus: ragam bahasa pada bidang-bidang tertentu,
Ragam ringkas: bahasanya padat, objektif, memberi informasi. contoh: Bahasa
jurnalistik (tidak membedakan tingkat kedudukan, kecerdasan dan pengetahuan).
Bahasa jabatan (bahasa di lingkungan pemerintahan, perusahaan, perundang-undangan,
bahasanya tidak dapat ditafsirkan menurut pembaca) Ragam Ilmiah: Bahasa yang
digunakan dalam masalah ilmiah, bahasa fikiran; setiap kata dan kalimat harus
sesuai dengan maksud
Ragam Ilmiah --- Karangan/Karya Ilmiah Karangan: Karya
Ilmiah Kaya Semi Ilmiah / Ilmiah Populer Karya Nonilmiah Karya Ilmiah: Hasil
pemikiran (penelitian) ilmiah tentang disiplin ilmu tertentu yang disusun
secara sistematis, memakai metode yang tepat, teori yang jelas, benar, logis,
utuh, bertanggung jawab, dan menggunakan bahasa yang benar/baku.
Karya Semi Ilmiah / Ilmiah Populer: Hampir sama dengan karya
ilmiah, namun tidak terikat dalam pemakaian bahasa, stuktur dan kodifikasi
karya, sedangkan bentuknya tidak harus argumentasi si penulis. Karya Nonilmiah:
Karya yang tidak terikat dengan aturan baku sebagaimana layaknya sebuah karya
ilmiah.
Perbedaan Ketiga Jenis Karya
Bentuk dan Makna Bahasa Bentuk Makna Segmental
Suprasegmental Tuturan Struktur Bahasa Pungtuasi Berbagai tanda baca
LATIHAN EYD Penggunaan tanda baca titik dalam gelar
Pemakaian huruf besar / kapital Penulisan angka dan lambang bilangan Awalan dan
kata depan; di, ke, dari, daripada Kata pinjaman dan serapan Singkatan
(akronim) Penggunaan kata yaitu, ialah/adalah . Dll.
BAB III
Pembahasan
Bentuk dan Makna
Satuan bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah
karangan. Di antara satuan bentuk terkecil dan terbesar itu terdapat deretan
bentuk morfem, kata, frasa, kalimat dan alinea.
Ketujuh satuan bentuk bahasa itu diakui eksistensinya jika mempunyai makna atau
dapat mempengaruhi makna. Dapat mempengaruhi makna maksudnya kehadirannya dapat
mengubah makna atau menciptakan makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna
dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang, yang saling melengkapi. Karena
bentuk yang tidak bermakna atau tidak dapat mempengaruhi makna tidak terdapat
dalam tata satuan bentuk bahasa
Fonem
Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan arti (bunyi dan huruf),
sedangkan huruf adalah lambang bunyi atau lambang fonem. Jadi, fonem sama
dengan bunyi (untuk didengar), huruf adalah lambang (untuk dilihat). Jumlah
huruf hanya 26, tetapi fonem bahasa Indonesia lebih dari 26 karena beberapa
huruf ternyata mempunyai lebih dari satu lafal bunyi, yaitu e, o dan k.
Contoh
:
1. Pelafalan
huruf “e”
Jahe, karate, sate,
Emas, lepas, pedas,
Enak, engsel, elok
1. Pelafalan
huruf “o”
Sekolah, organisasi,
sosial,
Beo, solo, trio,
1. Pelafalan
huruf “k”
Bak (tempat
air), botak, otak,
Anak, enak, ternak
Morfem
Morfem
adalah satuan bentuk kecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai
makna. Morfem dapat berupa imbuhan (misalnya –an, me-kan), klitika/partikel
(mislanya –lah, -kah), dan kata dasar (misalnya bawa, makan).
Untuk membuktikan morfem sebagai pembeda makna dapat dilakukan dengan
menggabungkan morfem dengan kata yang mempunyai arti leksikal [1]. Jika
penggabungan menghasilkan makna baru, unsur yang digabungkan dengan kata dasar
itu adalah morfem.
Contoh
:
Makan+an =
makanan
me- + makan= memakan
Yang disebut partikel adalah unsur-unsur kecil dalam bahasa. Dalam buku Tata
Bahasa Indonesia (1998:342), partikel –kah, -lah, -tah diakui sebagai klitika.
Klitika tidak sama dengan imbuhan.
Menurut bentuk dan maknanya, morfem ada dua macam :
1. Morfem
bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus
dihubungkan dengan morfem lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem
bebas.
2. Morfem
terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari satu makna.
Maknanya baru jelas setelah dihubungkan dengan morfem lain. Semua imbuhan
(awalan, sisipan, akhiran kombinasi awalan dan akhiran), partikel –ku, -lah,
-tah dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri termasuk morfem terikat.
Kata
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri
dan mempunyai makna. Kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan
morfem; atau gabungan huruf dengan morfem, baru diakui sebagai kata bila
bentuknya mempunyai makna.
Dari segi bentuk, kata dibagi atas dua macam :
1. Kata
yang bermorfem tunggal (kata dasar), yaitu kata yang belum mendapat imbuhan.
2. Kata
yang bermorfem banyak, yaitu kata yang sudah mendapat banyak imbuhan
Pembagian kelas atau jenis kata :
1. Kata
benda
(nomina),
6. Kata bilangan (numeralia),
2. Kata
kerja
(verba),
7. Kata sambung (konjungsi),
3. Kata
sifat (adjektiva),
8. Kata sandang (artikel),
4. Kata
ganti
(pronomina),
9. Kata seru (interjeksi),
5. Kata
keterangan
(adverbia),
10. Kata depan (preposisi).
Kata
Benda
Adalah kata yang mengacu kepada suatu benda (konkret maupun abstrak). Kata
benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap dan keterangan dalam kalimat.
Ciri-cirinya :
1. Dapat
diingkari dengan kata bukan. Contohnya, gula (bukan gula).
2. Dapat
diikuti setelah gabungan kata yang + kata sifat atau yang sangat + kata sifat.
Contohnya, buku + yang mahal (kata sifat).
Ada dua jenis kata yang juga mengacu kepada kata benda, yaitu :
1. Pronomina
: kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain. Contoh : mana, kapan, Bu.
2. Numeralia
: kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang atau barang.
Contoh : tiga, puluhan.
Kata
Kerja
Adalah
kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses dan keadaan yang bukan
merupakan sifat. Umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri-ciri kata kerja :
1. Dapat
diberi aspek waktu, seperti akan, sedang dan telah. Contoh : (akan) mati.
2. Dapat
diingkari dengan kata tidak. Contoh : (tidak) makan.
3. Dapat
diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata benda /kata sifat. Contoh :
tulis + dengan pena (kata benda) . menulis + dengan cepat (kata sifat).
Kata
Sifat
Adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat orang/binatang/suatu
benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat, objek dan penjelas dalam kalimat.
Dibedakan atas dua macam, yaitu :
1. Kata
sifat berbentuk tunggal, dengan ciri-ciri :
2. Dapat
diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang dan paling.
3. Dapat
diberi keterangan penguat seperti sangat, sekali.
4. Dapat
diingkari dengan kata ingkar tidak.
5. Kata
sifat berimbuhan. Contoh : manusiawi, kekanak-kanakan.
Kata
Keterangan
Adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif
[2] atau kalimat.
Contoh : Saya ingin segera melukis. Kata segera adalah adverbia yang
menerangkan verba melukis.
Kata
Tugas (partikel)
Adalah kumpulan kata dan partikel. Lebih tepat dinamakan rumpun kata tugas,
yang terdiri atas :
1. Kata
Depan (preposisi)
Adalah kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata
sifat atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposional).
Contoh : di kantor, sejak kecil.
2. Kata
sambung (konjungsi)
Adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua kata atau dua
kalimat. Contoh : – …..antara hidup dan mati (dalam kalimat)
3. Kata
seru (interjeksi)
Adalah kata tugas yang
dipakai untuk mengungkapkan seruan hati seperti rasa kagum, sedih, heran dan
jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau kalimay perintah
(imperatif). Contoh : Aduh, gigiku
sakit sekali! Ayo, maju
terus, pantang mundur!
4. Kata sandang
(artikel)
Adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau kata
benda. Artikel ada tiga, yaitu :
1. Yang
bermakna tunggal, contoh : sang putri
2. Yang
bermakna jamak, contoh : para hakim
3. Yang
bermakna netral, contoh : si hitam manis
4. Partikel
Bermakna unsur-unsur kecil dari suatu benda. Partikel yang
dibicarakan di sini adalah partikel yang berperan membentuk kalimat tanya
(introgatif) dan pernyataan, yaitu :
1. –kah :
Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
Berfungsi sebagai kalimat tanya yang membutuhkan jawaban.
1. –lah :
Apalah dayaku tanpa bantuanmu?
Berfungsi sebagai kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban,
tetapi tetap diberi tanda tanya.
-lah : Dialah yang Maha Kuasa.
Kata –lah dalam kalimat ini menunjukkan partikel dan harus
ditulis dengan huruf kecil.
-lah : DiaLah yang makan.
Kata –lah dalam kalimat ini menunujukkan kata hubung dan harus
ditulis dengan huruf besar.
1. –tah :
Apatah dayaku tanpa engkau?
Kata –tah dalam kalimat ini merupakan serapan dari bahasa Jawa.
Kalimat ini tidak membutuhkan jawaban (retoris).
1. –pun :
Karena dosen berhalangan, kuliah pun dibatalkan.
Frasa
Adalah
kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan belum membentuk kalusa atau
kalimat. Berfungsi sebagai subjek, predikat, objek dan keterangan di dalam kalimat.
Ciri-cirinya :
1. Kontruksinya
tidak mempunyai predikat,
2. Proses
pemaknaannya berbeda dengan idiom [3]
3. Susunan
katanya berpola tetap.
Frasa tidak boleh mengandung majna predikat dan tidak sama
dengan idiom, karena cakupan makna yang dibentuk oleh frasa masih disekitar
makna leksikal kata pembentuknya karena hakikatnya frasa adalah kata yang
diperhias dengan memberi keterangan. Contoh : jumpa pers; berjumpa dengan pers.
Makna
dan perubahannya
Ada dua macam makna yang terpenting, yaitu :
1. Makna
leksikal /makna denotasi/ makna lugas adalah makna kata secara lepas tanpa
kaitan dengan kata lain dalam suatu struktur, misalnya kata belah dapat
bermakna celah, pecah menjadi dua sisi, dll. Makna ini biasanya digunakan dalam
surat-surat resmi, surat-surat dagang, laporan dan tulisan ilmiah agar makna
menjadi pasti, sehingga tidak terjadi salah tafsir.
2. Makna
gramatikal atau makna konotasi, yaitu makna yang timbul akibat proses
gramatikal. Disebut juga makna struktural karena makna yang timbul bergantung
pada struktur tertentu sesuai dengan konteks dan situasi dimana kata itu
berada.
Contoh :
1. Lembah
hitam (daerah /tempat mesum)
2. Kuhitamkan
negeri ini (kutinggalkan untuk selamanya)
Dalam kaitan dengan makna, ada istilah-istilah yang perlu kita
pahami, yaitu :
1. Sinonim
atau padan makna, yaitu ungkapan yang maknanya hampir sama dengan ungkapan
lain. Contoh : nasib = takdir
2. Antonim
atau lawan makna, yaitu ungkapan yang maknanya kebalikan dari ungkapan lain.
Contoh : baik >< buruk.
3. Homomim,
terjadi jika dua kata mempunyai ucapan yang sama, tetapi maknanya berbeda.
Contoh : mengukur (dari kukur) dan mengukur (dari ukur)
4. Homofon,
terjadi jika dua kata mempunyai ucapan yang sama, tapi makna dan bentuknya
berbeda. Contoh : sangsi (ragu-ragu) dan sanksi (hukuman).
5. Homograf,
terjadi jika dua kata mempunyai bentuk yang sama, tapi beda makna dan
pengucapannya. Contoh : beruang (hewan) dan beruang (mempunyai uang)
6. Hiponim,
terjadi jika makna sebuah ungkapan meruapakn bagian dari makna ungkapan lain.
Contoh : merah adalah hiponim dari berwarna.
Dan di antara perubahan makna yang penting, yaitu :
1. Meluas,
jika cakupan makna sekarang lebih luas dari makna yang lama. Contoh :
Putra-Putri = anak-anak Raja (dahulu) = laki-laki dan perempuank sekarang.
2. Menyempit,
jika cakupan makna dahulu lebih luas dari dari makna yang sekarang. Contoh :
sarjana = semua cendikiawan (dahulu) = gelar akademis (sekarang).
3. Amelioratif,
yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih tinggi dari
makna lama. Contoh : wanita lebih tinggi nilainya daripada perempuan.
4. Peyoratif,
yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah
nilainya dari makna lama. Contoh : bunting diganti dengan mengandung
5. Sinestesia,
yaitu perubahan makna yang terjadi karena pertukaran tanggapan dua indera yang
berlainan. Contoh : Mukanya masam
6. Asosiasi,
yaitu perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh : Beri dia
amplop agar urusan cepat beres.
7. Metafora,
yaitu perubahan makna karena persamaan sifat antara dua objek. Contoh : Putri
malam (untuk bulan)
8. Metomini,
terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu
lingkungan makna yang sama dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu,
hubungan isi dan kulit, hubungan antara sebab dan akibat.
Contoh : Penemuan-penemuan yang sering disebut menurut
penemunya, seperti : Ohm, Ampere.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Satuan bentuk dalam bentuk bahasa Indonesia terdiri dari beberapa macam, yaitu
:
1. Fonem
2. Morfem
3. Kata
4. Frasa
5. Makna
dan perubahannya
Masing-masing dari mereka mempunyai fungsi yang berbeda tetapi
saling berkaitan dan mendukung terciptanya bahasa Indonesia yang baik
Daftar Pustaka
Keraf, Gorys, 1996, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : PT Gramedia
Finoza, Lamuddin, 2006, Komposisi Bahasa Indonesia, Jakarta :
Insan Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar