Rabu, 04 Mei 2016

Bentuk dan Makna Pemakaian Bahasa
    
Logo-Unlam.png  


Dosen pengampu : Dana Aswadi,M.Pd
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

Disusun Oleh :
M. Raihul Firdaus
B1A015495
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin
2016








BAB I
Pendahuluan
1.    Latar Belakang Masalah
            Pada zaman sekarang, sedikit sekali masyarakat / remaja yang mengenal bahasa Indonesia secara benar. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa komunikasi. Sebenarnya itu adalah kesalahan besar masyarakat kita. Masyarakat tidak bangga dengan bahasa resminya. Mereka lebih bangga dengan bahasa yang telah mereka rusak sendiri. Seharusnya, kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, lebih bangga dengan bangsa resmi kita, tidak dengan bahasa gaul yang telah kita ciptakan tanpa menggunakan kaidah EYD yang berlaku. Masalah ini telah menjadi masalah yang serius bagi kita. Dan sudah seharusnya kita sebagai warga negara yang baik mau mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
1.    Rumusan Masalah
2.    Apakah bentuk dan makna dalam Bahasa Indonesia?
3.    Apakah macam-macam bentuk dan makna itu?
4.    Apakah kegunaan dari macam bentuk dan makna itu?
5.    Tujuan
Makalah ini berisi penjelasan tentang bentuk dan makna yang ada dalam bahasa Indonesia, yang diharapkan bisa membantu para pembaca dalam memahami bahasa Indonesia lebih dalam.
BAB II
Landasan Teori
Ragam, Bentuk dan Makna Bahasa Ragam Bahasa: Variasi bahasa menurut pemakaian, berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan si pembicara, kawan bicara dan orang yang dibicarakan, dan menurut medium pembicaraan. Ragam Umum Ragam Sastra Ragam Jurnalistik Ragam Khusus Ragam Ringkas Ilmiah Jabatan
Ragam Umum: contoh: pidato, surat menyurat, karangan umum (bahasanya terpelihara) Ragam Khusus: ragam bahasa pada bidang-bidang tertentu, Ragam ringkas: bahasanya padat, objektif, memberi informasi. contoh: Bahasa jurnalistik (tidak membedakan tingkat kedudukan, kecerdasan dan pengetahuan). Bahasa jabatan (bahasa di lingkungan pemerintahan, perusahaan, perundang-undangan, bahasanya tidak dapat ditafsirkan menurut pembaca) Ragam Ilmiah: Bahasa yang digunakan dalam masalah ilmiah, bahasa fikiran; setiap kata dan kalimat harus sesuai dengan maksud
Ragam Ilmiah --- Karangan/Karya Ilmiah Karangan: Karya Ilmiah Kaya Semi Ilmiah / Ilmiah Populer Karya Nonilmiah Karya Ilmiah: Hasil pemikiran (penelitian) ilmiah tentang disiplin ilmu tertentu yang disusun secara sistematis, memakai metode yang tepat, teori yang jelas, benar, logis, utuh, bertanggung jawab, dan menggunakan bahasa yang benar/baku.
Karya Semi Ilmiah / Ilmiah Populer: Hampir sama dengan karya ilmiah, namun tidak terikat dalam pemakaian bahasa, stuktur dan kodifikasi karya, sedangkan bentuknya tidak harus argumentasi si penulis. Karya Nonilmiah: Karya yang tidak terikat dengan aturan baku sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah.
Perbedaan Ketiga Jenis Karya
Bentuk dan Makna Bahasa Bentuk Makna Segmental Suprasegmental Tuturan Struktur Bahasa Pungtuasi Berbagai tanda baca
LATIHAN EYD Penggunaan tanda baca titik dalam gelar Pemakaian huruf besar / kapital Penulisan angka dan lambang bilangan Awalan dan kata depan; di, ke, dari, daripada Kata pinjaman dan serapan Singkatan (akronim) Penggunaan kata yaitu, ialah/adalah . Dll.

BAB III
Pembahasan

Bentuk dan Makna
            Satuan bentuk terkecil dalam bahasa adalah fonem dan yang terbesar adalah karangan. Di antara satuan bentuk terkecil dan terbesar itu terdapat deretan bentuk morfem, kata, frasa, kalimat dan alinea.
            Ketujuh satuan bentuk bahasa itu diakui eksistensinya jika mempunyai makna atau dapat mempengaruhi makna. Dapat mempengaruhi makna maksudnya kehadirannya dapat mengubah makna atau menciptakan makna baru. Hubungan antara bentuk dan makna dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang, yang saling melengkapi. Karena bentuk yang tidak bermakna atau tidak dapat mempengaruhi makna tidak terdapat dalam tata satuan bentuk bahasa
            Fonem
            Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan arti (bunyi dan huruf), sedangkan huruf adalah lambang bunyi atau lambang fonem. Jadi, fonem sama dengan bunyi (untuk didengar), huruf adalah lambang (untuk dilihat). Jumlah huruf hanya 26, tetapi fonem bahasa Indonesia lebih dari 26 karena beberapa huruf ternyata mempunyai lebih dari satu lafal bunyi, yaitu e, o dan k.
Contoh :
1.    Pelafalan huruf “e”
Jahe, karate, sate,
Emas, lepas, pedas,
Enak, engsel, elok
1.    Pelafalan huruf “o”
Sekolah, organisasi, sosial,
Beo, solo, trio,
1.    Pelafalan huruf “k”
Bak (tempat air), botak, otak,
Anak, enak, ternak

            Morfem
          Morfem adalah satuan bentuk kecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna. Morfem dapat berupa imbuhan (misalnya –an, me-kan), klitika/partikel (mislanya –lah, -kah), dan kata dasar (misalnya bawa, makan).
            Untuk membuktikan morfem sebagai pembeda makna dapat dilakukan dengan menggabungkan morfem dengan kata yang mempunyai arti leksikal [1]. Jika penggabungan menghasilkan makna baru, unsur yang digabungkan dengan kata dasar itu adalah morfem.
Contoh :
Makan+an = makanan                                                 me- + makan= memakan
            Yang disebut partikel adalah unsur-unsur kecil dalam bahasa. Dalam buku Tata Bahasa Indonesia (1998:342), partikel –kah, -lah, -tah diakui sebagai klitika. Klitika tidak sama dengan imbuhan.
            Menurut bentuk dan maknanya, morfem ada dua macam :
1.    Morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain. Semua kata dasar tergolong sebagai morfem bebas.
2.    Morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari satu makna. Maknanya baru jelas setelah dihubungkan dengan morfem lain. Semua imbuhan (awalan, sisipan, akhiran kombinasi awalan dan akhiran), partikel –ku, -lah, -tah dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri sendiri termasuk morfem terikat.
Kata
            Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kalimat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna. Kata yang terbentuk dari gabungan huruf atau gabungan morfem; atau gabungan huruf dengan morfem, baru diakui sebagai kata bila bentuknya mempunyai makna.

            Dari segi bentuk, kata dibagi atas dua macam :
1.    Kata yang bermorfem tunggal (kata dasar), yaitu kata yang belum mendapat imbuhan.
2.    Kata yang bermorfem banyak, yaitu kata yang sudah mendapat banyak imbuhan
Pembagian kelas atau jenis kata :
1.    Kata benda (nomina),                          6. Kata bilangan (numeralia),
2.    Kata kerja (verba),                               7. Kata sambung (konjungsi),
3.    Kata sifat (adjektiva),                         8. Kata sandang (artikel),
4.    Kata ganti (pronomina),                      9. Kata seru (interjeksi),
5.    Kata keterangan (adverbia),                10. Kata depan (preposisi).
Kata Benda
            Adalah kata yang mengacu kepada suatu benda (konkret maupun abstrak). Kata benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap dan keterangan dalam kalimat.
Ciri-cirinya :
1.    Dapat diingkari dengan kata bukan. Contohnya, gula (bukan gula).
2.    Dapat diikuti setelah gabungan kata yang + kata sifat atau yang sangat + kata sifat. Contohnya, buku + yang mahal (kata sifat).
Ada dua jenis kata yang juga mengacu kepada kata benda, yaitu :
1.    Pronomina : kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain. Contoh : mana, kapan, Bu.
2.    Numeralia : kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang atau barang. Contoh : tiga, puluhan.
Kata Kerja
            Adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.

Ciri-ciri kata kerja :
1.    Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang dan telah. Contoh : (akan) mati.
2.    Dapat diingkari dengan kata tidak. Contoh : (tidak) makan.
3.    Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata benda /kata sifat. Contoh : tulis + dengan pena (kata benda) . menulis + dengan cepat (kata sifat).

Kata Sifat
            Adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, tabiat orang/binatang/suatu benda. Umumnya berfungsi sebagai predikat, objek dan penjelas dalam kalimat. Dibedakan atas dua macam, yaitu :
1.    Kata sifat berbentuk tunggal, dengan ciri-ciri :
2.    Dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang dan paling.
3.    Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, sekali.
4.    Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak.
5.    Kata sifat berimbuhan. Contoh : manusiawi, kekanak-kanakan.

Kata Keterangan
            Adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif [2] atau kalimat.
Contoh : Saya ingin segera melukis. Kata segera adalah adverbia yang menerangkan verba melukis.

Kata Tugas (partikel)
            Adalah kumpulan kata dan partikel. Lebih tepat dinamakan rumpun kata tugas, yang terdiri atas :
1.    Kata Depan (preposisi)
Adalah kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposional). Contoh : di kantor, sejak kecil.
2.    Kata sambung (konjungsi)
Adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua kata atau dua kalimat. Contoh : – …..antara hidup dan mati (dalam kalimat)
3.    Kata seru (interjeksi)
Adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati seperti rasa kagum, sedih, heran dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau kalimay perintah (imperatif). Contoh : Aduh, gigiku sakit sekali! Ayo, maju terus, pantang mundur!

4.    Kata sandang (artikel)
Adalah kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau kata benda. Artikel ada tiga, yaitu :
1.    Yang bermakna tunggal, contoh : sang putri
2.    Yang bermakna jamak, contoh : para hakim
3.    Yang bermakna netral, contoh : si hitam manis
4.    Partikel
Bermakna unsur-unsur kecil dari suatu benda. Partikel yang dibicarakan di sini adalah partikel yang berperan membentuk kalimat tanya (introgatif) dan pernyataan, yaitu :
1.    –kah : Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
Berfungsi sebagai kalimat tanya yang membutuhkan jawaban.
1.    –lah : Apalah dayaku tanpa bantuanmu?
Berfungsi sebagai kalimat tanya yang tidak membutuhkan jawaban, tetapi tetap diberi tanda tanya.
-lah : Dialah yang Maha Kuasa.
Kata –lah dalam kalimat ini menunjukkan partikel dan harus ditulis dengan huruf kecil.
-lah : DiaLah yang makan.
Kata –lah dalam kalimat ini menunujukkan kata hubung dan harus ditulis dengan huruf besar.
1.    –tah : Apatah dayaku tanpa engkau?
Kata –tah dalam kalimat ini merupakan serapan dari bahasa Jawa. Kalimat ini tidak membutuhkan jawaban (retoris).
1.    –pun : Karena dosen berhalangan, kuliah pun dibatalkan.
Frasa
            Adalah kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan belum membentuk kalusa atau kalimat. Berfungsi sebagai subjek, predikat, objek dan keterangan di dalam kalimat.
Ciri-cirinya :
1.    Kontruksinya tidak mempunyai predikat,
2.    Proses pemaknaannya berbeda dengan idiom [3]
3.    Susunan katanya berpola tetap.
Frasa tidak boleh mengandung majna predikat dan tidak sama dengan idiom, karena cakupan makna yang dibentuk oleh frasa masih disekitar makna leksikal kata pembentuknya karena hakikatnya frasa adalah kata yang diperhias dengan memberi keterangan. Contoh : jumpa pers; berjumpa dengan pers.

Makna dan perubahannya
Ada dua macam makna yang terpenting, yaitu :
1.    Makna leksikal /makna denotasi/ makna lugas adalah makna kata secara lepas tanpa kaitan dengan kata lain dalam suatu struktur, misalnya kata belah dapat bermakna celah, pecah menjadi dua sisi, dll. Makna ini biasanya digunakan dalam surat-surat resmi, surat-surat dagang, laporan dan tulisan ilmiah agar makna menjadi pasti, sehingga tidak terjadi salah tafsir.
2.    Makna gramatikal atau makna konotasi, yaitu makna yang timbul akibat proses gramatikal. Disebut juga makna struktural karena makna yang timbul bergantung pada struktur tertentu sesuai dengan konteks dan situasi dimana kata itu berada.
Contoh :
1.    Lembah hitam (daerah /tempat mesum)
2.    Kuhitamkan negeri ini (kutinggalkan untuk selamanya)

Dalam kaitan dengan makna, ada istilah-istilah yang perlu kita pahami, yaitu :
1.    Sinonim atau padan makna, yaitu ungkapan yang maknanya hampir sama dengan ungkapan lain. Contoh : nasib = takdir
2.    Antonim atau lawan makna, yaitu ungkapan yang maknanya kebalikan dari ungkapan lain. Contoh : baik >< buruk.
3.    Homomim, terjadi jika dua kata mempunyai ucapan yang sama, tetapi maknanya berbeda. Contoh : mengukur (dari kukur) dan mengukur (dari ukur)
4.    Homofon, terjadi jika dua kata mempunyai ucapan yang sama, tapi makna dan bentuknya berbeda. Contoh : sangsi (ragu-ragu) dan sanksi (hukuman).
5.    Homograf, terjadi jika dua kata mempunyai bentuk yang sama, tapi beda makna dan pengucapannya. Contoh : beruang (hewan) dan beruang (mempunyai uang)
6.    Hiponim, terjadi jika makna sebuah ungkapan meruapakn bagian dari makna ungkapan lain. Contoh : merah adalah hiponim dari berwarna.

Dan di antara perubahan makna yang penting, yaitu :
1.    Meluas, jika cakupan makna sekarang lebih luas dari makna yang lama. Contoh : Putra-Putri = anak-anak Raja (dahulu) = laki-laki dan perempuank sekarang.
2.    Menyempit, jika cakupan makna dahulu lebih luas dari dari makna yang sekarang. Contoh : sarjana = semua cendikiawan (dahulu) = gelar akademis (sekarang).
3.    Amelioratif, yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih tinggi dari makna lama. Contoh : wanita lebih tinggi nilainya daripada perempuan.
4.    Peyoratif, yaitu perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah nilainya dari makna lama. Contoh : bunting diganti dengan mengandung
5.    Sinestesia, yaitu perubahan makna yang terjadi karena pertukaran tanggapan dua indera yang berlainan. Contoh : Mukanya masam
6.    Asosiasi, yaitu perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh : Beri dia amplop agar urusan cepat beres.
7.    Metafora, yaitu perubahan makna karena persamaan sifat antara dua objek. Contoh : Putri malam (untuk bulan)
8.    Metomini, terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu lingkungan makna yang sama dan dapat diklasifikasi menurut tempat atau waktu, hubungan isi dan kulit, hubungan antara sebab dan akibat.
Contoh : Penemuan-penemuan yang sering disebut menurut penemunya, seperti : Ohm, Ampere.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan

            Satuan bentuk dalam bentuk bahasa Indonesia terdiri dari beberapa macam, yaitu :
1.    Fonem
2.    Morfem
3.    Kata
4.    Frasa
5.    Makna dan perubahannya

Masing-masing dari mereka mempunyai fungsi yang berbeda tetapi saling berkaitan dan mendukung terciptanya bahasa Indonesia yang baik
Daftar Pustaka
Keraf, Gorys, 1996, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : PT Gramedia

Finoza, Lamuddin, 2006, Komposisi Bahasa Indonesia, Jakarta : Insan Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar